Searching...

Popular Posts

Monday, November 19, 2012

Kidung Malam (38) - Menuju Kesempurnaan

10:21 PM

Tidak seperti malam ini, Anggraeni yang biasanya kuat, tegar tak mengenal takut, tiba-tiba hatinya berdesir cemas.

“Ada apa Kakangmas?”

“Harjuna menantangku melalui daya aji Pameling.”

“Harjuna?!”

Ekalaya mengangguk lemah.

“Ia tidak ingin melibatkan rakyat Paranggelung, cukup Aswatama yang dijadikan saksi.”

“Apakah Kakangmas akan memenuhi tantangan itu?”

“Ya, sebagai seorang ksatria.”

“Dengan kondisi lemah tak berdaya?”

“Iya Anggraeni. Apakah menurutmu lebih baik aku bersembunyi, tidak memenuhi tantangannya?”

Anggraeni menggeleng lemah.

“Memang seorang ksatria lebih memilih memenuhi tantangan daripada bersembunyi. Tetapi memenuhi tantangan dengan kondisi yang tak berdaya bukankah sama halnya dengan bunuh diri?”

“Aku tidak memilih bunuh diri Anggraini, aku akan berperang tanding.”

“Perang tanding? Dengan Harjuna yang sakti mandraguna?”

“Iya Anggraeni, perang tanding dengan Harjuna yang sakti mandraguna dan tampan!”

“Oh, bukan maksudku...”

Anggraeni tersadar bahwa kata-katanya telah membuat Ekalaya cemburu.

“Maafkan aku Kakangmas, aku telah salah bicara. Aku tidak bermaksud mengunggulkan Harjuna, tetapi bukankah saat ini Kakangmas Ekalaya belum mampu menarik anak panah dari busurnya.”

“Aku tidak takut Anggraeni.”

“Aku percaya bahwa Kakangmas Ekalaya tidak pernah merasa takut, tetapi bukankah Kakangmas juga mempunyai perhitungan yang cermat dan matang terhadap calon lawannya.”

Ekalaya bimbang. Dari luar ia kelihatan diam seribu bahasa, namun di dalam hatinya ramai akan berbagai macam pertimbangan yang harus dipilih. Bersembunyi atau berperang tanding. Jika bersembunyi apa alasannya, namun jika memenuhi tantangan apa andalannya. Lama keduanya terdiam. Anggraeni memberi kesempatan sepenuh-penuhnya kepada suaminya untuk memutuskan langkah.

Permenungan Ekalaya menukik masuk ke jagad jati diri Ekalaya yang paling dalam. Di sana tergambar sebuah peristiwa yang menakjubkan.

“Di sebuah padang rumput hijau segar dengan ditumbuhi bunga seribu warna dan kolam yang jernih airnya yang berbatas cakrawala, aku berjumpa dengan makhluk bercahaya putih kemilau, di depan gapura megah menjulang ke langit. Suasananya sejuk tanpa semilirnya angin, dan terang tanpa sinar matahari.

“Selamat datang Ekalaya, tugasmu telah aku anggap selesai. Aku menyambutmu dengan suka cita. Maukah engkau tinggal bersamaku sekarang juga dan untuk selamanya?” sambut makhluk bercahaya putih itu sembari tangannya menunjuk pada pintu gerbang di belakangnya. Aku tercengang dibuatnya karena tiba-tiba saja makhluk bercahaya putih kemilau itu lenyap dari hadapanku. Tinggallah aku sendirian di tempat itu.

Walaupun sebelumnya yang ada di sekitarku, seperti rumput, aneka bunga, air mega dan yang lainnya pernah aku lihat, saat ini suasananya berbeda sama sekali Aku merasa damai tenteram tinggal dalam suasana seperti itu. Lama ditunggu, makhluk bercahaya tersebut tidak muncul lagi. Aku mencoba bangkit berdiri menuju pintu gerbang nan indah menjulang. Karena aku berkeyakinan bahwa makhluk bercahaya tersebut ada di dalamnya.

Aku beranikan diri naik di tangga gerbang. Wouw! Luar biasa! Dengan apa aku harus menceritakan suasana indah yang demikan eloknya? Rasa penasaran mendorongku untuk melangkah ke tangga yang lebih tinggi lagi sehingga akan semakin jelas pemandangan apa yang ada di dalamnya. Namun sebelum kakiku menginjak tangga berikutnya, tiba-tiba ada cahaya terang benderang menerpa wajahku. Aku tak kuat memandangnya, dan terhempas seperti melayang, untuk kemudian sadar dari permenunganku.”

Anggraeni memeluk Ekalaya erat-erat dan tak hendak melepaskannya.

“Maafkan aku Anggraeni, terima kasih atas kesetianmu.”

“Ada apa denganmu, Kakangmas?”

“Diajeng, tugasku telah dianggap selesai, dan aku akan tinggalkan Paranggelung untuk selamanya.”

“Kangmas!”

Ekalaya bangkit berdiri menyahut gandewa pusaka, melangkah keluar menembus kegelapan malam. Aggraeni menyadari bahwa ia tidak mungkin untuk mencegahnya, karena apa yang dilakukan Ekalaya sepertinya bukan atas kehendaknya sendiri. Maka yang dilakukan adalah mengikuti ke mana suaminya melangkahkan kaki.

Setelah berjalan beberapa lama, sampailah Ekalaya di perbatasan Paranggelung. Ekalaya menebarkan pandangannya ke segala arah. Dan tampaklah tubuh ringan berkelebat mendekati Ekalaya.

“Harjuna!”

“Engkau memenuhi tantanganku Ekalaya.”

Kemudian tanpa bicara lagi, keduanya mengambil jarak, bersiap untuk berperang tanding.

Harjuna sebagai sang penantang mempersilakan Ekalaya melepaskan senjata terlebih dahulu. Segeralah Ekalaya memasang anak panah dan menarik gandewanya. Gandewa pusaka itu bercahaya, menerangi sekelilingnya. Harjuna memandang tajam, memusatkan kesaktiannya menghadapi serangan Ekalaya. Namun Harjuna heran dengan apa yang dilihatnya. Tangan Ekalaya bergetar tak beraturan, sehingga menyebabkan arah bidikannya kurang tepat sasaran.

“Ekalaya, jangan meremehkan aku, seranglah aku dengan sungguh-sungguh.”

“Jika aku meremehkanmu aku tidak mungkin datang memenuhi tantanganmu dalam keadaanku yang seperti ini,” jawab Ekalaya sembari menunjukkan tangan kanannya yang tanpa ibu jari.

“Apa yang terjadi dengan ibu jari tanganmu?”

“Bapa Durna telah memotongnya.”

Bagai disambar geledhk Harjuna terkejut mendengar jawaban Ekalaya.

“Jadi.. jadi ibu jari yang menempel di ibu jari tanganku ini ibu jarimu?!”

Harjuna menunjukkan jari tangannya yang berjumlah enam.

Ekalaya tak kalah terkejutnya. Ia tidak mengira bahwa pusaka Cincin Mustika Ampal yang dipersembahkan dengan tulus kepada Sang Guru Durna telah menempel pada musuh bebuyutannya.

“Baiklah Harjuna! Kini saatnya telah tiba, giliranmu menyerang aku. Aku semakin mantap bahwa pusakaku Mustika Ampal pemberian Sang Hyang Pada Wenang itulah yang akan mengantar aku ke pangkuanNya. Harjuna, engkau adalah musuhku, engkau adalah sesamaku, dan engkaulah yang mendapat tugas untuk menyempurnakan hidupku. Terima kasih Harjuna. Lakukanlah!”



sumber: google.com

0 comments:

Post a Comment